sarat ingin meluahkan - kepada siapa?
ah... memilih untuk menzahirkan pasti kan kembali memanah batini. kelak kan menjadi sisyphus yang memikul beban ke puncak hayat. ataukah terus membelai senyap meski kan menguras qalbu menjadi api yang merenih perlahan setiap sisi ruh yang bisu hingga akhirnya kering dan kembali kepada haqMu?
setiap hari kutatap matahari dalam kilauan narwastu mancari-cari namaMu. Ada yang selalu tiada - berpendar suaraMu memanggil-manggil namaku.
tembok-tembok yang semakin reput, kutampalkan kekuatan di merata-rata.
Thursday, 22 August 2013
Sunday, 28 July 2013
catatan Martha Sinaga
pertemuanku
dengan penyair Rosmiaty Shaari sejenak. dengan kelembutan vokalnya,
sayup-sayup pula kudengar apa yang dibicarakannya. tapi tak berlebihan
jika kukatakan itulah seorang perempuan yang bernama Rosmiaty Shaari.
kalem, sedikit bicara. satu hal ia menyapa dan menjawab perbincangan
lebih kaya dengan senyuman.
tapi, sibak karya sastra perempuan kelahiran Teluk Intan, Perak, Malaysia itu, antara lain pada lembaran kumpulan puisi yang ia beri judul...dari Hitamputih Menjadi Zahrah. hal 15.
Tunas baru
anak-anakku,
di rahim ibu ada seribu janji
untuk kau bawa belayar
kejarlah matahari, kejarlah bulan, kejarlah bintang
waimma selamilah laut yang dalam
kerana di sana
kamu akan temui seribu kalam
dan seribu rahasa alam.......
kepekaan seorang ibu yang memberikan seluruh hidup dan jiwa bagi si buah hati. ibu yang dengan kepekaan dan ketulusan itu tidak hanya memberikan bekal hidup namun juga mendedahkan kepada sang buah cintanya bagaimana membentuk hidup menjadi sebuah kehidupan.
kejarlah matahari dst...
mentari yang merupakan sumber enerji dan kehidupan yang bersinar untuk kawan dan lawan. yang panasnya memberi semangat dan menguatkan tulang. Roos menggunakan bulan sebagai penerangan yang lembut dan syahdu bak kasih seorang ibu. Bintang yang walau kecil namun pijarannya untuk semua yang ada di bumi.... bahasa kalbu seorang perempuan yang telah disebut ibu-puan-bunda kuat dirasakan pada karya puisi Roos.
ehm, dengan menggenggam semua itu Roos lantas mengatakan,"kamu akan temui seribu kalam." susunan diksi yang simpel namun tidak se-simpel maknanya. sebuah pemahaman untuk selalu mawas diri dan menyadari bahwa tak ada manusia yang sempurna, namun ada jalan yang harus dilalui untuk menuju kebahagian....persuasi komunikasi yang jitu yang ditemui pada bait-bait puisi Roos...
tabik eratku....
Martha Sinaga
Jakarta
tapi, sibak karya sastra perempuan kelahiran Teluk Intan, Perak, Malaysia itu, antara lain pada lembaran kumpulan puisi yang ia beri judul...dari Hitamputih Menjadi Zahrah. hal 15.
Tunas baru
anak-anakku,
di rahim ibu ada seribu janji
untuk kau bawa belayar
kejarlah matahari, kejarlah bulan, kejarlah bintang
waimma selamilah laut yang dalam
kerana di sana
kamu akan temui seribu kalam
dan seribu rahasa alam.......
kepekaan seorang ibu yang memberikan seluruh hidup dan jiwa bagi si buah hati. ibu yang dengan kepekaan dan ketulusan itu tidak hanya memberikan bekal hidup namun juga mendedahkan kepada sang buah cintanya bagaimana membentuk hidup menjadi sebuah kehidupan.
kejarlah matahari dst...
mentari yang merupakan sumber enerji dan kehidupan yang bersinar untuk kawan dan lawan. yang panasnya memberi semangat dan menguatkan tulang. Roos menggunakan bulan sebagai penerangan yang lembut dan syahdu bak kasih seorang ibu. Bintang yang walau kecil namun pijarannya untuk semua yang ada di bumi.... bahasa kalbu seorang perempuan yang telah disebut ibu-puan-bunda kuat dirasakan pada karya puisi Roos.
ehm, dengan menggenggam semua itu Roos lantas mengatakan,"kamu akan temui seribu kalam." susunan diksi yang simpel namun tidak se-simpel maknanya. sebuah pemahaman untuk selalu mawas diri dan menyadari bahwa tak ada manusia yang sempurna, namun ada jalan yang harus dilalui untuk menuju kebahagian....persuasi komunikasi yang jitu yang ditemui pada bait-bait puisi Roos...
tabik eratku....
Martha Sinaga
Jakarta
Wednesday, 24 July 2013
ROSMIATY DI SEBALIK TABIR PUISI
ROSMIATY DI SEBALIK TABIR PUISI
Djazlam Zainal
Saya
sering diajukan oleh beberapa penyair wanita seperti Siti Zainon
Ismail, Zurinah Hassan dan lain-lain tentang kebisuan di kalangan
penyair wanita. Rata-rata penulis wanita lebih menumpukan perhatian
terhadap genre novel dan cerpen berbanding puisi. Terlalu sukar untuk
mendapatkan satu nama penyair pelapis selepas Siti Zainon, Zaihasra,
Zurinah Hassan, Zaiton Ajmain, Siti Zaleha M. Hashim, Mahaya Mohd Yasin
dan lain-lainnya.
Walau pun agak lama saya mendepani kumpulan puisi ' Dari Hitamputih Menjadi Zarah ' karya Rosmiaty Shaari ( I-Man Creative, 2011 ) saya masih bimbang dengan kedekatan diri saya terhadap Rosmiaty Shaari. Barangkali akan terpercik, ' masuk bakul angkat sendiri ' atau yang seumpama dengannya. Tetapi apabila Dr. Norhayati Abdul Rahman, seorang pengkaji sastra yang kritis lagi proaktif mengatakan Rosmiaty merupakan penyair yang diharapkan dapat mengisi kekosongan tersebut, saya memberanikan diri untuk memperluas daerah yang dibincangkan oleh Dr. Norhayati tersebut.
Dr. Norhayati menyebutkan, antara mereka saya nampak yang paling menonjol ialah nama Rosmiaty Shaari, terutamanya dengan kumpulan puisi " Dari Hitam Putih Menjadi Zarah " (yang hanya sempat saya semak dan baca sepintas lalu). Kebanyakan puisi di dalamnya bukan sahaja menyerlahkan susunan idea yang berhasil membentuk kesatuan fikiran yang utuh, malah memberi kesan dari sudut rasa dan intelektual, di samping mengemukakan nilai motivasi dan memartabatkan kebenaran unggul. Konsep kebenaran unggul yang ditampilkan dalam kebanyakan puisinya menggugah pemikiran pembaca. Malah, penggunaan lambang dan simbol-simbol yang berkolokasi serta fungsional dalam 84 buah puisinya membekaskan substansi subjek serta mengaktifkan penaakulan. Ini suatu pencapaian yang mengagumkan buat seorang penyair wanita. Kehadirannya bukan sekadar sebutir bintang dalam lingkungan sastera wanita, malah sedang gemerlap dalam horison cakrawala sastera tanah air. Semoga beliau terus kekal dalam momentum penggarapan karya yang sedemikian!
Rosmiaty bermula dengan cerpen. Pertengahan tahun 1980-an merupakan tahun-tahun prolifik bagi beliau. Kumpulan cerpennya terbit pada tahun 1987 berjudul ' Malam Seribu Malam ' ( Teks Publishing, Kuala Lumpur ) seterusnya beliau bertugas sebagai editor di beberapa syarikat penerbitan di ibu kota. Namun kegiatan penulisannya terhenti apabila beliau mengikuti suaminya berhijrah ke beberapa negeri seperti Kelantan, Kuala Lumpur dan Melaka. Namun pada mellinium 2000, beliau kembali menulis tetapi tumpuannya kini kepada puisi. Ternyata puisi dimanfaatkan olehnya dengan waktunya yang padat sebagai seorang suri rumah tangga. Dan puisinya mula mengalir mengisi kekosongan penyair pelapis wanita tanah air.

***
Melihat keseluruhan puisinya, saya cuba melihatnya dari sudut didaktik dan pendekatan tauhid. Shahnon Ahmad pernah membincangkan tassawur Islam apabila melihat kesusastraan Islam penulis-penulis Malaysia. Kesusastraan yang sedemikian sifatnya adalah didaktik, yakni mengajar sesuatu yang benar, indah, harmonis, sempurna, yang membuat manusia mengenal hakikat dirinya dan mengenal Allah. Barangkali ini terjadi karena usia kedewasaannya dalam dunia sastra. Kesusastraan yang didaktik bukanlah kesusastraan propaganda, tetapi kesusastraan yang mencerminkan kebijaksanaan sejagat yang dapat dimanfaatkan oleh semua manusia sepanjang zaman. Saya petik dari beberapa buah puisinya ini.
menyapalah duhai teja, tun fatimah, mahsuri
berjabat salamlah tangan lembut anggriani dan zubaidah
kepuk padi sudah lama kontang - terbitkah benih baru
langkawi melangkau mayat tujuh keturunan gersangnya-
tumbuh menyongsang
darah yang menyimbah melaka - buminya makin
menginjur ke selat retaknya makin berselirat
tanah jawa - tak sudah tangis dari gerak yang merambat
kenangnya terpahat jauh... ke dalam luka makrifat
( Rumpun Puisi Melayu, hal. 30 )
Dalam Serumpun Serai Wangi, ( hal. 27 ) Rosmiaty menulis,
Melayu yang kita cari dari benua ke benua
dari sebatang jarum, tak terjahit juga pautannya
kita gali dari bahasanya kita eja maknawinya
yang kita temui bahasa ayam mematuk, itik menyudu
dan kita masih keliru mencari titik temu
Melayu kita apa, akar kita siapa?
Melihat ciri-ciri didaktik dan propaganda ini memberi pengajaran estatika antara keduanya. Makna karya dari segi struktur dan perutusan adalah pembentukan metodologi yang menyeluruh menyentuh tentang rohani, jasmani dan akal manusia. Menjurus pendekatan tauhid ini, karya menjelaskan akan hakikat insan, hakikat ilmu dan amal dan hakikat serta fungsi sastra.
Peranan penulis menurut al-Quran seperti yang dihuraikan oleh Ismail al-Faruqi, sebagai rahimahullah yaitu gabungan isi kandungan yang luhur dengan bentuk yang luhur. Al-Quran mengisyaratkan seperti berikut;
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya ( menjulang ) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim, dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan itu kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap ( tegak ) sedikit pun. Allah meneguhkan ( iman ) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki ( 14: 24-27 )
Kesusastraan sedemikian sifatnya akan melahirkan penulis yang beradab, yang beriman dan mengerjakan amal salih. Al-Quran mengutuk penyair yang berbohong, munafik, yang beriman dengan kata-kata tanpa tujuan yang baik dan pendirian yang benar. Puisi berikut ini mengambarkan tentang Rosmiaty.
RUMAH KEMATIAN
warna-warna di dalam rumah
telah hitam semua
meninggalkan diam paling sempurna
menyisihkan ruh ke sisi
pertanyaan dari raung
serupa seekor mimpi ngeri
yang sering menyalakan api
membakar setiap denyut yang bernadi
dan menyembunyi suara ke dalan peti
menompok abu ke penjuru
dari celah-celah warna kelabu
matahari di hujung daun
menitiskan warna
paling seni
basahi tanah asal
tumbuhi di bulan akal
Kematian adalah suatu yang ubsurd. Kata Fatimah Busu dalam cerpen Kematian Seekor Sang Kancil. Kematian juga bukan sesuatu yang boleh diperolokkan. Al-Quran mengutuk seseorang yang bersifat munafik dalam ayat berikut;
Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada sesiapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran ( kepada syaitan ) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahawasanya mereka mengembara di setiap lembah, dan bahawasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya? Kecuali orang-orang ( penyair-penyair ) yang beriman dan beramal salih dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali ( 26: 221 -227 )



***
Penyair adalah golongan seniman yang mendapat tempat dalam al-Quran. Dan golongan ini harus berhati-hati dalam menyuarakan isi hatinya. Matlamat akhir bagi pendidikan estatika yang ingin diperolehi oleh pembaca ialah ingin merasa kebenaran makna dan keindahannya. Pendekatan tauhid di mana karya bukan semata-mata kemabukkan rasa dan bahasa serta penyimpangan struktur dari kebiasaan, tetapi yang lebih utama ialah pembacanya akan mendapat hidayah dan sinar kemakrufan yang sebenar. Al-Quran dapat mengubah kehidupan kabilah Arab jahiliah daripada kufur kepada beriman, begitulah puisi hendaknya mengubah kelalaian kepada keinsafan. Jika itu peranan puisi di tangan penulis-penulis yang bermottokan jihad, insya allah karya mereka terlepas dari kutukkan yang dinaskan dalam al-Quran. Ini adalah kerja berat penyair...
Walau pun agak lama saya mendepani kumpulan puisi ' Dari Hitamputih Menjadi Zarah ' karya Rosmiaty Shaari ( I-Man Creative, 2011 ) saya masih bimbang dengan kedekatan diri saya terhadap Rosmiaty Shaari. Barangkali akan terpercik, ' masuk bakul angkat sendiri ' atau yang seumpama dengannya. Tetapi apabila Dr. Norhayati Abdul Rahman, seorang pengkaji sastra yang kritis lagi proaktif mengatakan Rosmiaty merupakan penyair yang diharapkan dapat mengisi kekosongan tersebut, saya memberanikan diri untuk memperluas daerah yang dibincangkan oleh Dr. Norhayati tersebut.
Dr. Norhayati menyebutkan, antara mereka saya nampak yang paling menonjol ialah nama Rosmiaty Shaari, terutamanya dengan kumpulan puisi " Dari Hitam Putih Menjadi Zarah " (yang hanya sempat saya semak dan baca sepintas lalu). Kebanyakan puisi di dalamnya bukan sahaja menyerlahkan susunan idea yang berhasil membentuk kesatuan fikiran yang utuh, malah memberi kesan dari sudut rasa dan intelektual, di samping mengemukakan nilai motivasi dan memartabatkan kebenaran unggul. Konsep kebenaran unggul yang ditampilkan dalam kebanyakan puisinya menggugah pemikiran pembaca. Malah, penggunaan lambang dan simbol-simbol yang berkolokasi serta fungsional dalam 84 buah puisinya membekaskan substansi subjek serta mengaktifkan penaakulan. Ini suatu pencapaian yang mengagumkan buat seorang penyair wanita. Kehadirannya bukan sekadar sebutir bintang dalam lingkungan sastera wanita, malah sedang gemerlap dalam horison cakrawala sastera tanah air. Semoga beliau terus kekal dalam momentum penggarapan karya yang sedemikian!
Rosmiaty bermula dengan cerpen. Pertengahan tahun 1980-an merupakan tahun-tahun prolifik bagi beliau. Kumpulan cerpennya terbit pada tahun 1987 berjudul ' Malam Seribu Malam ' ( Teks Publishing, Kuala Lumpur ) seterusnya beliau bertugas sebagai editor di beberapa syarikat penerbitan di ibu kota. Namun kegiatan penulisannya terhenti apabila beliau mengikuti suaminya berhijrah ke beberapa negeri seperti Kelantan, Kuala Lumpur dan Melaka. Namun pada mellinium 2000, beliau kembali menulis tetapi tumpuannya kini kepada puisi. Ternyata puisi dimanfaatkan olehnya dengan waktunya yang padat sebagai seorang suri rumah tangga. Dan puisinya mula mengalir mengisi kekosongan penyair pelapis wanita tanah air.

rosmiaty bersama teman seperjuangannya sri diah sedang memperkatakan ' dari hitamputih menjadi zarah '
***
Melihat keseluruhan puisinya, saya cuba melihatnya dari sudut didaktik dan pendekatan tauhid. Shahnon Ahmad pernah membincangkan tassawur Islam apabila melihat kesusastraan Islam penulis-penulis Malaysia. Kesusastraan yang sedemikian sifatnya adalah didaktik, yakni mengajar sesuatu yang benar, indah, harmonis, sempurna, yang membuat manusia mengenal hakikat dirinya dan mengenal Allah. Barangkali ini terjadi karena usia kedewasaannya dalam dunia sastra. Kesusastraan yang didaktik bukanlah kesusastraan propaganda, tetapi kesusastraan yang mencerminkan kebijaksanaan sejagat yang dapat dimanfaatkan oleh semua manusia sepanjang zaman. Saya petik dari beberapa buah puisinya ini.
menyapalah duhai teja, tun fatimah, mahsuri
berjabat salamlah tangan lembut anggriani dan zubaidah
kepuk padi sudah lama kontang - terbitkah benih baru
langkawi melangkau mayat tujuh keturunan gersangnya-
tumbuh menyongsang
darah yang menyimbah melaka - buminya makin
menginjur ke selat retaknya makin berselirat
tanah jawa - tak sudah tangis dari gerak yang merambat
kenangnya terpahat jauh... ke dalam luka makrifat
( Rumpun Puisi Melayu, hal. 30 )
Dalam Serumpun Serai Wangi, ( hal. 27 ) Rosmiaty menulis,
Melayu yang kita cari dari benua ke benua
dari sebatang jarum, tak terjahit juga pautannya
kita gali dari bahasanya kita eja maknawinya
yang kita temui bahasa ayam mematuk, itik menyudu
dan kita masih keliru mencari titik temu
Melayu kita apa, akar kita siapa?
Melihat ciri-ciri didaktik dan propaganda ini memberi pengajaran estatika antara keduanya. Makna karya dari segi struktur dan perutusan adalah pembentukan metodologi yang menyeluruh menyentuh tentang rohani, jasmani dan akal manusia. Menjurus pendekatan tauhid ini, karya menjelaskan akan hakikat insan, hakikat ilmu dan amal dan hakikat serta fungsi sastra.
Peranan penulis menurut al-Quran seperti yang dihuraikan oleh Ismail al-Faruqi, sebagai rahimahullah yaitu gabungan isi kandungan yang luhur dengan bentuk yang luhur. Al-Quran mengisyaratkan seperti berikut;
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya ( menjulang ) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim, dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan itu kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap ( tegak ) sedikit pun. Allah meneguhkan ( iman ) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki ( 14: 24-27 )
Kesusastraan sedemikian sifatnya akan melahirkan penulis yang beradab, yang beriman dan mengerjakan amal salih. Al-Quran mengutuk penyair yang berbohong, munafik, yang beriman dengan kata-kata tanpa tujuan yang baik dan pendirian yang benar. Puisi berikut ini mengambarkan tentang Rosmiaty.
RUMAH KEMATIAN
warna-warna di dalam rumah
telah hitam semua
meninggalkan diam paling sempurna
menyisihkan ruh ke sisi
pertanyaan dari raung
serupa seekor mimpi ngeri
yang sering menyalakan api
membakar setiap denyut yang bernadi
dan menyembunyi suara ke dalan peti
menompok abu ke penjuru
dari celah-celah warna kelabu
matahari di hujung daun
menitiskan warna
paling seni
basahi tanah asal
tumbuhi di bulan akal
Kematian adalah suatu yang ubsurd. Kata Fatimah Busu dalam cerpen Kematian Seekor Sang Kancil. Kematian juga bukan sesuatu yang boleh diperolokkan. Al-Quran mengutuk seseorang yang bersifat munafik dalam ayat berikut;
Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada sesiapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran ( kepada syaitan ) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahawasanya mereka mengembara di setiap lembah, dan bahawasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya? Kecuali orang-orang ( penyair-penyair ) yang beriman dan beramal salih dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali ( 26: 221 -227 )

rosmiaty dengan sejumlah penyair yang memperagakan karyanya..

dr. norhayati banyak mengkaji puisi-puisi wanita dari sudut ginokritik yang diamatinya

rosmiaty bersama dr. free hearty dan dr. sastri sunarti sweeney di jakarta
***
Penyair adalah golongan seniman yang mendapat tempat dalam al-Quran. Dan golongan ini harus berhati-hati dalam menyuarakan isi hatinya. Matlamat akhir bagi pendidikan estatika yang ingin diperolehi oleh pembaca ialah ingin merasa kebenaran makna dan keindahannya. Pendekatan tauhid di mana karya bukan semata-mata kemabukkan rasa dan bahasa serta penyimpangan struktur dari kebiasaan, tetapi yang lebih utama ialah pembacanya akan mendapat hidayah dan sinar kemakrufan yang sebenar. Al-Quran dapat mengubah kehidupan kabilah Arab jahiliah daripada kufur kepada beriman, begitulah puisi hendaknya mengubah kelalaian kepada keinsafan. Jika itu peranan puisi di tangan penulis-penulis yang bermottokan jihad, insya allah karya mereka terlepas dari kutukkan yang dinaskan dalam al-Quran. Ini adalah kerja berat penyair...
Wednesday, 12 June 2013
BUNGA HATI UNGU
Bunga Hati Ungu
kadang hatimu berkelopak ungu
sendu terharu
kau harus merelakan
segala dugaan
jangan biarkan lara mencengkam dada
masih ada mentari
menyinari warna baru
merah jambu atau putih embun
kau adalah bunga
di hatimu sendiri !
2012 - 11 Mei 2013
kadang hatimu berkelopak ungu
sendu terharu
kau harus merelakan
segala dugaan
jangan biarkan lara mencengkam dada
masih ada mentari
menyinari warna baru
merah jambu atau putih embun
kau adalah bunga
di hatimu sendiri !
2012 - 11 Mei 2013
HSZI
Tuesday, 16 April 2013
Catatan Dari Rom 2
RAWANBiar awan bergumpal lalu
Langit biru
Berzaman
Menyapa kalbu
Kawanku
Di situkah
Kau sembunyikan
Rindu pilu
Hingga diam membatu?
April 2013
HSZI
Note
MEMBACA PUISI ( 8 )
Rosmiaty Shaari lahir pada 25 Mei di Teluk Intan, Perak, Malaysia. Mendapat pendidikan hingga memperolehi Sijil Tinggi Persekolahan. Mengikuti Pengjian Seni Kreatif di Universiti Sains Malaysia tahun 1983/84. Pernah menjadi Editor di Teks Publishing/Singamal Publishing (1985-1989), Editor di Marwilis Publisher (1990-1994), Free Lance Editor bagi Flo Enterprise, Penerbit Karyawan, Penerbit S. Abdul Majeed dan Penerbitan Murni hingga kini.
Antara karya yang telah diterbitkan ialah antologi cerpen persendirian 'Malam Seribu Malam' (Teks Publishing,1988), antologi cerpen bersama 'Mannequin' (Kerajaan Negeri Selangor, 1986', kumpulan puisi bersama 'Temoh Tasik Kenangan' (Karyawan Perak, 2010), kumpulan puisi bersama 'Kampung Bandar Dalam' (2010), kumpulan puisi bersama 'KEMALA - Meditasi Dampak 70' (Insandi, 2011). Karya-karya beliau turut dimuatkan di majalah Dewan Sastera, Dewan Pelajar, Jelita, akhbar Minggun Malaysia, Berita Minggu, Siasah dan lain-lain.
Hikayat Sebuah Mimpi
dia mengecil dalam kelodak zarah
terapungapung antara debu yang menyapu mimpi
minda yang semakin terbelenggu
membengkak ditikam lok tujuh kerisnya sendiri
yang disepuh racun ular kepala tujuh -
terbangnya bersayap emas
menjalarnya senyap menyusur akar beringin
nafasnya desis boragas
bisanya tak menyatu urat dengan darah
seksanya tidak membunuh riwayat
hidupnya tidak berlandaskan adat
ia bersembunyi di lembah keramat
meskipun perit mengusung riwayat
bermusim-musim mengumpul hikayat
yang tersimpan dicari
yang terbenam digali
dia belum juga mati
meski gendang perang berbunyi
dan perang pun berhenti
bila celik matanya
hukum syarak teguh berdiri
bersendikan tiang adat
dia kembali mentafsir mimpi....
23/03/2011
melaka
Mempelajari sastra mungkin bersifat tragedi, karena kita mungkin berada pada dua dunia yang bertentangan, dunia ilmu pengetahuan yang terikat dengan dispilinnya dan teori yang pernah ada, sedangkan hasil sastra adalah suatu proses kreatif yang selalu membarui dirinya sebagai dikatakan oleh Harold Rosenberg ( Umar Junus, 1976, xi ) Sekiranya kita hayati Hikayat Sebuah Mimpi ternyata ia bertolak dari inkernasi dalaman penulisnya. Ini dapat dilihat dalam ungkapan, meskipun perit mengusung riwayat/ bermusim-musim mengumpul hikayat/ yang tersimpan dicari/
yang terbenam digali/ dia belum juga mati/ meski gendang perang berbunyi/ dan perang pun berhenti.
Penyair merasakan dirinya mengusung pencarian yang tersembunyi. Namun akhirnya diredhakan dengan bila celik matanya/ hukum syarak teguh berdiri/ bersendikan tiang adat/ dia kembali mentafsir mimpi..
Manusia adalah homo sapien yang sering bermain dengan intuisi dalamannya. Penyair sangat kuat dengan daya eksrinsik yang mana luahan dalamannya cukup tinggi. Penelitian resepsi akan melijhat bagaimana aktivitas pembaca sebagai penikmat. Pembacalah yang terus menghidupkan karya sastra karena tanpa pembaca yang reaction, karya akan lenyap begitu saja. Sebagai perbandingannya lihatlah puisi Nyanyi Burung Sintar ini.
angin pagi tiba-tiba berhenti
mendengar nyanyi sintar
mengais kelopak tanah basah
wanginya, aduhai...
bangkit nafasku antara sayu dan kecundang
tanah merah ini belum kering
meski hijau anak rumput mulai merecup
tak henti bertasbih, subhanallah...
gugur kemboja putih
antara flamboyant merah berdarah
tanah yang masih basah
engkau di situ
didakap sunyi
sesekali terdengar alun getar surah
sayup-sayup cahaya berkaca
dan nyanyi burung sintar
yang tak pernah letih
menemanimu tak jemu zikir....
14042011
melaka
Puisi adalah kawah merapi yang sedang tidur. Bangun untuk meladak dan memberi pengertian.
Wednesday, 6 March 2013
Endorsement RASA TERPANGGANG
Endorsement:
Puisi itu lantunan rasa paling halus meski temponya ada bahagia, ada duka, ada tempek, ada bisik - waimma segala suka dan nestapa terpancar pada bibir kata-kata. Puisi hambatan dari seluruh selokan tubuh jiwa, yang merakam segenap juzuk peristiwa. Demikianlah puisi dalam diri Djazlam Zainal, yang saya kenali lahir dan batin, menumbuhkan sesuatu yang perlu difikirkan - sama ada baik atau buruk, ia adalah hambatan perasaan yang akhirnya upaya menetaskan puisi-puisi yang mengangkat kebesaran Maha Pencipta Rabbul Izzati, begitulah yang saya lihat di dalam sebahagian puisi Djazlam Zainal dalam kumpulan puisi Rasa Terpanggang - Rosmiaty Shaari
Subscribe to:
Posts (Atom)