Monday, 27 January 2014

Sekitar 'Press Conference' Pengumuman Keputusan Puisi Dunia Numera 2014

Foto Kenangan Bersama
Penyair Djazlam Zainal Membaca Puisi Pemenang Utama BISIK BATIK Syafik Said

SN Dato' Dr Kemala Mengiringi Dato' Dr Awang Sariyan Ketua Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka Menyempurnakan Gimik Penyingkapan Pengumumam Nama-nama Pemenang Utama
Encik Basri Abdullah, Pemenang Utama Dengan Puisinya ISYIQ II
SN Dato' Dr Kemala, Presiden Numera

Hamba Yang Dhoif Dengan RISALAH MELAYU


RISALAH MELAYU

(gemilanglah mewarnai sejarah 
jangan tanggalkan warna labah-labah - andai itu sumpah Melayu 
mengua-hira'lah dalam genggamanmu, tuan!)

peribadi... 
tujuk lok bersidi sakti 
membayangi tujuh hijap pintu tajalli 
ini amanah para moyang di rantau pendeta 
berabad terpelihara - masihkah ikhtilaf terjarak, wahai? 
hitam mengalir di puisi 
putih dikafani mati 
panas meruap di tulang negeri 
entah berapa kali kita terbunuh mati!

titian...
 'hablumminallah wa hablumminannas...' - 
merah malam ziarah 
merah darah di mata hikmah 
panahlah belahan bulan 
numera teguh dalam ikatan!

martabat... 
ini daerah selalu dicumbu 
dari daerah Melayuku paling ungu 
titik yang sering terusik 
detik yang terus berdetik 
sejarah di mata pending - siapa perawi? 
lok tujuh sempana keris - bisik Tuah bestari 
Melayu tak hilang 
Islam ditatang 
tidak kan lidah mengingkari besi 
tetap iman menunjangi isi...

amanah... 
ini janji pertama 
ke liang fikir 
paling getir!

Allahuakbar...!


September 2013



Risalah Melayu:

Rosmiaty Shaari berjaya mengungkapkan Kemelayuan baru, agar Melayu tidak hilang begitu sahaja dengan semangat yang naif. Dia membaca sejarah bangsanya yang panjang. Dia mahu mencipta tamadun namun 'jangan tanggalkan warna labah-labah', maknanya siratan labah-labah itu membawa alegori tekun dan unik dalam perjuangannya. Oleh kerana Melayu itu tidak dapat dipisahkan dari maknawi Islami, maka arifilah jihad Rasullullah selama bermunajat di Gua Hira 'menggua-hira'lah..', katanya.

Dia juga memaknakan 'peribadi', 'titian', dan martabat'. Dia sampai kepada angka majis Melayu-Islami 'tujuh lok bersidi sakti/ membayangi tujuh hijap pintu tajalli' dalam genggamannya tidak terberai 'amanah moyang di rantau pendeta' tetap padu walaupun banyak cabaran yang dihadapi oleh Melayu di Numera, hitam dan putih bukan sekadar warna mati tetapi 'hitam mengalir di puisi/ putih dikafani mati' meruap di sana sini bangun dan jatuh di tulang negeri... dan ada yang 'terbunuh mati'. Perjuangan itu tetaplah 'merah darah di mata hikmah' dan katanya, 'panahlah belahan bulan' dengan penuh dinamik. Tetapi penyair tetap terus bertanya, 'sejarah di mata pending/  siapa perawi?' agar 'Melayu tak hilang/ Islam ditatang' demikian dia menginsafi Ilahi saja yang akan melindungi.

- LAPORAN PANEL HAKIM


Friday, 10 January 2014

Dalam dunia sastera, jikalau tiada orang yang sudi membantu, kita bangkitlah sendiri-sendiri - bantu diri kita mengenal peribadi. Dunia sastera tidak perlu wang, tak perlu tali dan tak perlu tongkat untuk mencipta kreativiti. Penghuninya hanya perlu - kuat! - Ros

Saturday, 30 November 2013

KEMBALI KEPADA FIRAH KUMPULAN PUISI ROSMIATY SHAARI


KEMBALI KEPADA FIRAH KUMPULAN PUISI ROSMIATY SHAARI

Djazlam Zainal

Kumpulan puisi sentiasa datang dan pergi. Saban waktu kumpulan puisi dari penyair kawakan dan penyair baru sentiasa diterbitkan. Kumpulan puisi Kembali Kepada Fitrah merupakan kumpulan puisi kedua dari penyair Rosmiaty Shaari yang diterbitkan oleh Institut Penterjemah dan Buku Malaysia ( ITBM ) Kumpulan puisi pertamanya Hitamputih Menjadi Zarah ( 2011 ) telah didiskusikan di Pusat Dokumentasi HB Jassin, Taman Ismail Marzuki ( TIM ) Jakarta, pada 28 Oktober 2011 oleh novelis dan kritikus terkenal Indonesia, Dr. Free Hearty dan kumpulan WOHAInya. Apabila kumpulan puisi keduanya terbit dan diberi kata pengantar oleh Dr. Free Hearty, sudah tentu ia menarik perhatian khalayak untuk mendapatkan dan membaca isinya.

Dalam kata pengantarnya, Dr. Free Hearty mengulas buku yang mengandungi 80 buah puisi dan berketebalan 105 halaman muka surat ini. Katanya, ' membaca puisi-puisi Rosmiaty, saya seperti bertemasya. Temasya spritual yang penuh estatika dan etika serta menyentuh hingga ke lubuk jiwa. Saya terpesona dengan majas yang digunakannya, ( hal. xiv ) Dari penjelasannya, sudah tentu kumpulan puisi ini sarat dengan puisi-puisi yang bersifat sufisme. Di sinilah tarikkannya. Dr. Free meneruskan, pemujaan penyair terhadap Allah SWT terasa kental dalam karya. Penyair tampak berserah diri dengan penuh sungguh kepada Sang Pencipta. Ada pula kepiawaian penyair yang lain ketika dia menyandingkan potret alam dengan puisi-puisinya. Menyandingkan visual dan verbal, memerlukan kecerdasan, agar ada garis hubung antara gambar dan kata. Rosmiaty memiliki kemampuan ini.

Saya teringat kepada Martin Heidegger yang mengajukan satu pertanyaan yang mendasar mengenai hubungan penyair dengan kata-katanya, ' is anything more exciting and more dangerous for the poet than his relation to words '
Saya tertarik dengan penfokusannya yang mengatakan kata-kata dalam puisi ini menarik atau bahaya? Sudah tentu puisi menelorkan bahasa-bahasa terbaik namun tidak dinafikan akan bahayanya kata-kata dari sebuah puisi.

Puisi tetap relavan untuk sepanjang masa. Puisi tidak akan punah dari tubuh kebudayaan kerana manusia sentiasa memerlukan insting bagi nilai-nilai keindahan, seni atau lebih tepatnya insting dasar manusia ( basic human instinct ) Penyair yang baik sayogianya faham tentang psikologi massa terutamanya psikologi pembacanya. Penyair harus tahu kehendak pembaca tentang puisi, panjang pendek puisi dan temanya. Ezra Pound mengatakan penyair yang baik akan selalu hemah dengan bahasanya. Puisi sebagai satu gagasan idea dan bukan cerita atau prosa, harus menghemahkan bahasa agar ia memikat instuisi minda pembacanya. Sebab itulah puisi-puisi yang berjaya dan selalu dikenang seperti puisi-puisi Latif Mohidin, Usman Awang atau Chairil Anwar adalah puisi-puisi yang mempunyai hemah dalam pemilihan ayat yang tepat dan berhemah pada bahasanya.

Rosmiaty Shaari bukan orang baru dalam sastera. Beliau menulis cerpen sekitar tahun 1980-an di mana cerpennya telah dikumpulkan dalam kumpulan cerpen ' Malam Seribu Malam ' terbitan Teks Publishing, Kuala Lumpur ( 1987 ) Kumpulan cerpen yang mendapat sambutan baik penggemar cerpen menjadi landasannya bagi menulis puisi pula. Seorang penulis yang luas pengetahuan dalam bidang penyuntingan ini, sangat memperhalusi tata bahasanya. Free Hearty menyedari hal ini dengan menyatakan, kualiti dirinya tampak cemerlang lewat dunia kata dengan pemilihan diksi penuh kelembutan dan keindahan. Rosmiaty jauh lebih ' lincah ' bersuara dalam dunia kata. Dia berselancar dengan gerak-geri indah, meliuk dan membawa kita berwisata spritual. Puisi yang mengarah kepada manusia pun tiada muncul dengan nada amarah, meski menggunakan metafora yang berkesan menimbulkan perasaan itu. Ini dituliskan dalam puisi ' Pisau dan Darah ' ( hal. 26 )

Kau sebilah pisau bermata dua
menyilau dalam cahaya
mengelar ikut selera

Aku darah merah menyala
berasal dari sumsum nestapa
senyap aku di pembuluh rahsia

Kau pisau bermata dua
menghiris dua luka
mengharap darah
mengalir tanpa merasa

dan aku tetap darah
yang mengalir dari luka yang parah
dari duka yang sangat merah

Kau dan aku adalah satu
tanpa kilauan matamu
tiadalah merah darahku

Dalam pemahaman saya, kata Free Hearty, bahkan dalam kemarahan pun diungkapkan dengan romantisme yang manis. ' Kerana tanpa kilauan matamu, tiadalah merah darahku. '  Jadi tanpa yang satu maka yang satunya lagi tidak akan berarti. Romantisme yang padat, indah dan mengkagumkan. Sekiranya Dr. Free Hearty, seorang pengkaji sastera nusantara, Indonesia dan Malaysia sudah menyatakan begitu, sudah tentu ia menarik insting kita pula untuk membaca dan menafsirkannya. Bukan selalu kita mendapat kata-kata indah dan bermadah. Sesekali terbit dan mudah pula untuk kita mendapatkannya, apa salahnya kita membaca dan menilai dengan penuh saksama. Inilah permintaan saya, agar buku puisi yang baik ini dapat dimanfaatkan bersama


- Mingguan Malaysia. 24112013






Friday, 15 November 2013

pertanyaan??

siapakah gerangan dari United State yang begitu asyik dengan blog hamba ini. tolonglah muncul, wahai..

Tuesday, 12 November 2013

KEMBALI KEPADA FITRAH ITU KEMATIAN?




KEMBALI KEPADA FITRAH ITU KEMATIAN?

DJAZLAM ZAINAL

Kembali Kepada Fitrah merupakan kumpulan puisi ke dua Rosmiaty Shaari. Dalam kata pengantarnya, Dr. Free Hearty ( Jakarta ) menulis, membaca puisi-puisi Rosmiaty, saya seperti bertemasya. Temasya spritual yang penuh estatika dan etika serta menyentuh hingga ke lubuk jiwa. Saya terpesona dengan majas yang digunakannya. Pemujaan penyair terhadap Allah SWT terasa kental dalam karyanya. Penyair tampak berserah diri dengan penuh sungguh kepada Sang Pencipta.

Sementara Lebai Kampung al-Jihiny mengatakan karya-karya penulis ini, ternyata di dalamnya terdapat selitan iman, Islam dan ihsan, yang menjadi tunjangan buat umat bagi menuju kesempurnaan keimanan.

Dari dua pengkaji ini kelihatan bahwa kumpulan puisi Rosmiaty Shaari, Kembali Kepada Fitrah, adalah saraf dengan makna dan perlambangan, keimanan yang semuanya menjurus kepada kematian. Ini yang menjadi semakin menarik untuk dikupas dan dihayati puisi-puisi Rosmiaty kali ini. Saya memetik satu sorotan yang mengatakan, dalam sebuah hadis ada disebutkan, innallaha jamilun yuhibbul jamal yang bermaksud, sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan Dia menyukai keindahan. Puisi adalah sebagian kata yang indah dan punya filsafat yang tinggi untuk dihayati. Memang tidak mudah memahami puisi, apatah lagi puisi yang mengandungi citra yang dimunculkan secara bayangan atau ilusi yang dapat dilihat dalam keseluruhan puisi.

Saya petik sebuah puisinya berjudul, ' Mim '.

mim mustika pada nama
berlari di tapak kecil
di sayap jibril
terbang ke langit akhir
serupa ababil
menggugurkan beribu benih fikir
menumbuhkan ribuan mutiara zikir

Ada beberapa yang menarik dalam Mim ini. Pertama mengingatkan sajak Kemala yang menggunakan Mim sebagai judul puisi dan judul kumpulan puisinya. Kedua, Mim Mustika yang sering diungkapkan oleh penyair Ladin Nuawi terhadap buah hatinya dan ' sayap jibril ' langgam yang pernah digunakan oleh SM Zakir dalam sebuah kumpulan cerpen. Saya menyebutkan ketiga-tiganya kerana ia mengingatkan saya kepada keakrapan langgam-langgam tersebut. Dan apabila ia diungkapkan dengan baris dan frasa-frasa terbaru oleh penyairnya, ia mudah mengimbau kepada sebuah karya besar yang pernah lahir sebelumnya.

Saya sependapat dengan Dr. Free Heraty dalam memperkatakan puisi " Pisau dan Darah '

aku darah merah menyala
berasal dari sumsum nestapa
senyap aku di pembeluh rahasia

kau pisau bermata dua
menghiris dua luka
mengharap darah
mengalir tanpa merasa

dan aku tetap darah
yang mengalir dari luka yang parah
dari luka yang sangat merah

kau dan aku adalah satu
tanpa kilau matamu
tiadalah merah darahku

Dalam pemahaman saya, kata Free Hearty, bahkan kemarahan pun diungkap dengan romantisme yang manis. ' Karena tanpa matamu, tiadalah merah darahku ' Jadi tanpa yang satu maka yang satu laginya tidak mungkin berarti. Saya teringat puisi-puisi Sapardi tentang pisau ini. Pisau hanya simbolisme, yang sebenarnya katalah yang menghiris, bukan pisau. Pada kilau matanya, apakah mata pisau atau kilau kata. Dan Sapardi bertanyakan, apakah yang mengalir itu darah pisau ataukah darah kata. Puisi adalah satu kemahiran membolak-balikkan kata-kata dalam gubahan pemikiran yang berada di luar kotak kebiasaan. Puisi tidak punya logika. Puisi tidak konkrit dan akan sentiasa berputar dan beredar.

Saya jadi sok untuk memperagakan satu tulisan Abdulrahman Wahid ( Gus Dur ) berjudul Bercocok Tanam di Surga. Gus Dur mengambil petikan ayat ini, ' barang siapa menginginkan panenan ( baik ) di akhirat, akan Kutambah panenannya itu ( berlipat ganda ) ( man kana yuridu hartal akhirah nazid lahu fi harthih ) Timbul pertanyaan, apakah kita masih harus bekerja keras lagi, bercocok tanam di sawah pada hari akhirat nanti?

Al Quran menyuguhkan kita pemikiran dan bayangan-bayangan kebenaran di hadapan kita. Barangkali hal yang sama dilakukan oleh penyair-penyair kita yang mempunyai keikhlasan dan kemakrufan yang tinggi terhadap dunia azali. Ini karena ayat 224-227, surah as-syuara menyinggung mengenai keberadaan penyair dengan amarannya, ' bahwa penyair diikuti oleh orang-orang yang sesat kecuali penyair dan orang-orang beriman ' Ini bermakna, penyair adalah orang yang pintar menggunakan bahasa sama ada untuk memberi petunjuk atau menyesatkan kaum atau kabilahnya.

Lalu saya memulangkan penyair dan buku puisinya kepada pembaca yang benar-benar dahaga. Semoga ianya menjirus kedahagaan yang bergulir antara mata dan akal. Antara yang jahil dan beriman.