KEMBALI KEPADA FITRAH ITU KEMATIAN?
DJAZLAM ZAINAL
Kembali Kepada Fitrah
merupakan kumpulan puisi ke dua Rosmiaty Shaari. Dalam kata
pengantarnya, Dr. Free Hearty ( Jakarta ) menulis, membaca puisi-puisi
Rosmiaty, saya seperti bertemasya. Temasya spritual yang penuh estatika
dan etika serta menyentuh hingga ke lubuk jiwa. Saya terpesona dengan
majas yang digunakannya. Pemujaan penyair terhadap Allah SWT terasa
kental dalam karyanya. Penyair tampak berserah diri dengan penuh sungguh
kepada Sang Pencipta.
Sementara Lebai Kampung
al-Jihiny mengatakan karya-karya penulis ini, ternyata di dalamnya
terdapat selitan iman, Islam dan ihsan, yang menjadi tunjangan buat umat
bagi menuju kesempurnaan keimanan.
Dari dua pengkaji ini kelihatan bahwa kumpulan puisi Rosmiaty Shaari,
Kembali Kepada Fitrah,
adalah saraf dengan makna dan perlambangan, keimanan yang semuanya
menjurus kepada kematian. Ini yang menjadi semakin menarik untuk dikupas
dan dihayati puisi-puisi Rosmiaty kali ini. Saya memetik satu sorotan
yang mengatakan, dalam sebuah hadis ada disebutkan,
innallaha jamilun yuhibbul jamal
yang bermaksud, sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan Dia menyukai
keindahan. Puisi adalah sebagian kata yang indah dan punya filsafat yang
tinggi untuk dihayati. Memang tidak mudah memahami puisi, apatah lagi
puisi yang mengandungi citra yang dimunculkan secara bayangan atau ilusi
yang dapat dilihat dalam keseluruhan puisi.
Saya petik sebuah puisinya berjudul,
' Mim '.
mim mustika pada nama
berlari di tapak kecil
di sayap jibril
terbang ke langit akhir
serupa ababil
menggugurkan beribu benih fikir
menumbuhkan ribuan mutiara zikir
Ada beberapa yang menarik dalam
Mim ini. Pertama mengingatkan sajak Kemala yang menggunakan
Mim sebagai judul puisi dan judul kumpulan puisinya. Kedua,
Mim Mustika yang sering diungkapkan oleh penyair Ladin Nuawi terhadap buah hatinya dan '
sayap jibril
' langgam yang pernah digunakan oleh SM Zakir dalam sebuah kumpulan
cerpen. Saya menyebutkan ketiga-tiganya kerana ia mengingatkan saya
kepada keakrapan langgam-langgam tersebut. Dan apabila ia diungkapkan
dengan baris dan frasa-frasa terbaru oleh penyairnya, ia mudah mengimbau
kepada sebuah karya besar yang pernah lahir sebelumnya.
Saya sependapat dengan Dr. Free Heraty dalam memperkatakan puisi "
Pisau dan Darah '
aku darah merah menyala
berasal dari sumsum nestapa
senyap aku di pembeluh rahasia
kau pisau bermata dua
menghiris dua luka
mengharap darah
mengalir tanpa merasa
dan aku tetap darah
yang mengalir dari luka yang parah
dari luka yang sangat merah
kau dan aku adalah satu
tanpa kilau matamu
tiadalah merah darahku
Dalam pemahaman saya, kata Free Hearty, bahkan kemarahan pun diungkap dengan romantisme yang manis. '
Karena tanpa matamu, tiadalah merah darahku '
Jadi tanpa yang satu maka yang satu laginya tidak mungkin berarti. Saya
teringat puisi-puisi Sapardi tentang pisau ini. Pisau hanya simbolisme,
yang sebenarnya katalah yang menghiris, bukan pisau. Pada kilau
matanya, apakah mata pisau atau kilau kata. Dan Sapardi bertanyakan,
apakah yang mengalir itu darah pisau ataukah darah kata. Puisi adalah
satu kemahiran membolak-balikkan kata-kata dalam gubahan pemikiran yang
berada di luar kotak kebiasaan. Puisi tidak punya logika. Puisi tidak
konkrit dan akan sentiasa berputar dan beredar.

Saya jadi
sok untuk memperagakan satu tulisan Abdulrahman Wahid ( Gus Dur ) berjudul
Bercocok Tanam di Surga.
Gus Dur mengambil petikan ayat ini, ' barang siapa menginginkan panenan
( baik ) di akhirat, akan Kutambah panenannya itu ( berlipat ganda ) (
man kana yuridu hartal akhirah nazid lahu fi harthih ) Timbul pertanyaan, apakah kita masih harus bekerja keras lagi, bercocok tanam di sawah pada hari akhirat nanti?
Al
Quran menyuguhkan kita pemikiran dan bayangan-bayangan kebenaran di
hadapan kita. Barangkali hal yang sama dilakukan oleh penyair-penyair
kita yang mempunyai keikhlasan dan kemakrufan yang tinggi terhadap dunia
azali. Ini karena ayat 224-227, surah as-syuara menyinggung mengenai
keberadaan penyair dengan amarannya, '
bahwa penyair diikuti oleh orang-orang yang sesat kecuali penyair dan orang-orang beriman '
Ini bermakna, penyair adalah orang yang pintar menggunakan bahasa sama
ada untuk memberi petunjuk atau menyesatkan kaum atau kabilahnya.
Lalu
saya memulangkan penyair dan buku puisinya kepada pembaca yang
benar-benar dahaga. Semoga ianya menjirus kedahagaan yang bergulir
antara mata dan akal. Antara yang jahil dan beriman.