Friday, 11 November 2011
Thursday, 10 November 2011
catatan (lxxxi)
aku yang kehilangan bonda lama
dahulu, mencari-cari dalam belukar rindu, di celahan daun-daun dan
pucuk menyulur, berlegar ke hujung raung, berpendar sendu di embun yang
menitis di kalbu - bondoku pergi membawa doa yang sunyi. dan Kau meminjamkan aku seorang lagi, si lembut hati, ya Bundo Free,
aku hanya menumpang sedikit gerak tasbih di hujung jari...
catatan (lxxx)
meskipun berkali-kali kaucuba melontar suara dendam yang terpenjara di dalam sarang, oleh nafsumu yang sesekali meradang, bukankah kau tak pernah kecundang - lalu diammu pun berkata, wahai muslimah, jangan kau mengalah, kerana hijabmu sangat kuat mengajakmu menyimpan diam.
Tuesday, 8 November 2011
catatan (lxxviii)
jika kaupaut dahannya
jangan sampai sehabis sekah
hingga menimpa tanah
kan bergegar akarmu
kerana calar yang berguris
di dinding terakhir
pastikan pedih
ditusuk tajam selumbar
jangan sampai sehabis sekah
hingga menimpa tanah
kan bergegar akarmu
kerana calar yang berguris
di dinding terakhir
pastikan pedih
ditusuk tajam selumbar
catatan (lxxvii)
yang tak akan bertanya itu engkau. kerana prinsip tak akan merubah telingamu yang memang tuli, bahkan angin pun tak pernah mengerti berapa banyak kesedihan telah terkubur di awan hati, daun juga tak pernah mengira berapa banyak luruhannya dikuburan musim, hanya musim yang berkali-kali menjerit - leburkan namamu supaya menjadi hablur. engkau, malah engkau yang diam kembali menjadi detik yang membilang setiap titik.
Monday, 7 November 2011
catatan (lxxvi)
sesekali mengubah mimpi
dapatkah matahari meninggalkan pelangi
kerana kadang-kadang takdir berubah air
beriak di atas
bergelombang di bawah
bahkan kadang-kadang menggelepar
seperti ikan hilang pernafasan...
catatan puisi Djazlam Zainal (ii)
LEWAT FOTO INI
oleh Djazlam Zainal
lewat foto ini
tiga hatiku ada di sana
istri, adik dan buku
menjadi satu
lihatlah betapa manis
senyuman tiga garis
senyum istri yang merindu
senyum adik riang bertemu
senyum buku dalam pelukanmu
lewat foto ini
setompok cintaku membeku
di atas puing-puing sepi
di tanah air
sekeping rindu berlalu
di atas sitatulrahmi
mahu digulir di atas sana
semi cinta-Nya
24 zulkaedah 1432/ 22 oktober 2011
tiga senyum bergulir..
Subscribe to:
Posts (Atom)

